Tampilkan postingan dengan label My stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My stories. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Maret 2015

Dosen di Jepang

Sesuai janji gue di postingan sebelumnya, kali ini gue akan bahas mengenai dosen di Jepang. Tapi sebelumnya, perlu gue tegaskan bahwa bukan berarti gue mengeneralisir dosen di sini maupun di Indonesia ya. Ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi saja. 

Attitude dosen disini yang paling berkesan adalah sikap Rendah Hati. Mereka sangat ahli di bidangnya, tapi itu tidak membuat mereka memandang rendah mahasiswanya. Berikut beberapa kejadian yang bikin gue terharu dan speechless :

  1. Mengucapkan kata terima kasih. Kata yang sederhana, namun susah di ucapkan bagi orang yang tinggi hati. Tapi selama kuliah disini, gue sering banget menerima ucapan terima kasih dari dosen. Bahkan untuk hal yang remeh aja, mereka ngucapin terima kasih. Jadi waktu itu pas gue mau ngumpulin jawaban ujian, gue streples sendiri kertas jawaban gue karena ada beberapa lembar. Pas liat itu, dosen gue langsung bilang makasih. Omg, gue langsung bengong donk dan jadi nge-fans ama dia hahahaha. Padahal dia itu ahli banget di bidangnya, jadi narasumber di tv, dan tulisan dia ada di mana-mana. Tapi dia tetap mau menghargai tindakan gue yang sangat sangat sepele untuk dia. Trus gue juga sering nerima ucapan terima kasih dari dosen pembimbing gue. Contohnya "terima kasih sudah memilih saya jadi advisor", padahal kan gue yang ngarep bangeet di bimbing ama dia, "terima kasih sudah datang", padahal kan gue yang butuh dia untuk bimbingan. 
  2. Mengucapkan kata maaf. Sama seperti kata terima kasih, susah juga bagi sebagian orang untuk di ucapkan. Tapi dosen disini ga pernah sungkan untuk bilang maaf kalo telat, kalo belum bisa jawab pertanyaan mahasiswa, kalo ngerasa ga maksimal bantu mahasiswa, kalo tiba-tiba hp-nya bunyi di kelas. Jadi inget dulu pas S1, mahasiswa dah lamaaaa pake banget nunggu dosen untuk bimbingan, ga ada tuh kata maaf dari mereka. Bahkan sering dengan seenaknya aja mendadak batalin janji padahal mahasiswa dah ngejer-ngejer tu dosen ampe kampus lain. Ga ada kata maaf dan ga ada rasa bersalah. Merasa kita yang butuh. Beda ama dosen disini, bagi mereka ketika dipilih jadi advisor maka mereka akan sepenuhnya bertanggung jawab dan melayani mahasiswanya. Ga perlu harus ketemu langsung, bimbingan via email pun ga apa-apa. 
  3. Perhatian. Gue selama S1 dulu ga pernah ya diperhatikan dosen, inget gue aja kayaknya ga mungkin hahahaha. Aku mah apa atuh, hanya mahasiswa . Tapi beda pas disini, mereka perhatian dan mau nolong mahasiswanya. Waktu itu dikelasnya, profesor A ngasih tau ada  konferensi internasional di Tokyo. Dia nyuruh kami untuk ngirim tulisan. Gue tertarik dan coba kirim tulisan gue. Ternyata lolos seleksi. Kemudian yang bikin gue terharu adalah ketika profesor itu bilang "tulisan kamu lolos seleksi, selamat ya. Dan kamu tidak usah bayar registration fee, kamu tinggal bilang saja pada panitia kalau kamu mahasiswa saya". Sumpah gue speechless dan pengen nangis saat itu. Gimana gue ga terharu, karena tanpa bantuan beliau maka gue harus bayar registration fee sebesar 3 jutaan rupiah. Itu kan mahal banget. Trus ada lagi, tahun depannya gue pengen ikut lagi konferensi. Trus bilang ke profesor B kalo gue butuh masukan dia untuk tulisan gue. Ternyata dia bilang, dia ga terlalu paham topik tulisan gue, dia merasa bukan ahlinya. Tapi kemudian dia malah bantuin gue nyari orang yang lebih ahli. Dia bahkan nemenin gue cari data ke salah satu Kementerian disini. Padahal profesor B ini adalah salah satu dosen senior di kampus gue, terkenal di bidangnya, dan jadi nara sumber kemana-mana. Tapi dia mau meluangkan waktunya yang gue tau sangat padat itu untuk nemenin gue cari data. Nemenin gue doank, naik kereta, jalan kaki cari data. Kalo gue pikir-pikir, apa untungnya bagi dia kan. Trus saat konferensi, yang presentasi kan banyak dan dibagi perkelompok. Dan ternyata tanpa gue kasih tau jadwal gue, tiba-tiba 10 menit sebelum gue presentasi dia masuk ke ruangan untuk liat gue presentasi. kebetulan dia juga ikut karena memang jadi keynote speaker disana. Sumpah ini bikin gue terharu, walau jadi tambah deg-degan karena takut mengecewakan dia tapi bikin gue jadi tambah semangat. Dan tentunya tak lupa setelah gue presentasi, dia kasih selamat dengan senyum sumringah. Omg, makasih banyak sensei. Tanpa bantuan dia, ga mungkin gue bisa nyelesain tulisan gue. Sensei, kamu baik banget. Lagi dan lagi gue terharu dan pengen nangis  
Ya begitulah beberapa contoh sikap dosen disini yang bikin gue salut, terharu, makin cinta dan nge-fans ama mereka. Sikap rendah hati mereka sangat patut untuk di contoh. Ilmu padi benar-benar sudah mendarah daging dalam diri mereka. Mereka ahli dibidangnya, tapi ga pernah merasa paling benar. Selalu memberi kesempatan mahasiswa untuk diskusi dan tukar pikiran dengan mereka. Jadi bagi kita yang belum apa-apa tapi udah pongah dan pamer, mestinya malu donk yaa. Belum pantas untuk kita tinggi hati, karena masih banyak orang yang posisinya di atas kita namun tetap rendah hati. 

Sekian dulu, semoga tulisan gue bisa di ambil hikmahnya


Sabtu, 07 Maret 2015

Musim gugur di Jepang


“Autumn is a second spring when every leaf is a flower.”
 - Albert Camus


Musim gugur adalah musim dimana pohon memberikan pesona terindahnya sebelum menggugurkan diri. Setelah dimasa mudanya memberikan kesejukan, di masa tuanya mereka tak lupa memberikan kenangan terindah bagi lingkungannya. Pesona dedaunan yang berubah wujud menjadi bewarna-warni memang memanjakan mata. Rasanya sayang sekali jika kemudian mereka harus kering lalu gugur dan terbang di bawa angin. 


“Autumn is the hardest season. 
The leaves are all falling, and they're falling like they're falling in love with the ground.”
- Andrea Gibson



Selain itu, musim gugur adalah musim yang paling romantis. Besarnya cinta dedaunan pada tanah, menyebarkan virus cinta pada hati manusia. Hawa yang sejuk dan dedaunan indah yang berguguran adalah perpaduan yang sempurna untuk dijadikan alasan bermesraan dengan pasangan.

Yaaa....musim gugur adalah musim dimana aku dan kamu jadi sering kencan di taman. Kencan yang sederhana memang tapi tetap terasa manis. Kita berjalan bergandengan tangan menyusuri jalan di taman yang dihiasi daun-daun yang berguguran. Bersenda gurau sambil sekali-kali kamu mengusap kepalaku yang kejatuhan daun. Lalu duduk di bangku taman sambil mengamati orang-orang yang lalu-lalang. Mmm walau saat itu kamu lebih banyak membisu, namun genggaman tanganmu mampu menghangatkan suasana. Dan aku paling suka bersandar manja di bahumu yang kekar itu sambil memeluk erat lenganmu. Aaah rasanya nyaman sekali.
Sungguh aku selalu ingin mengulang masa-masa itu. Semoga bisa kita ulang di taman lain, di negara lain dan di tahun lain namun tetap bersama kamu .... Aamiin


Apa yang bikin ga asyik tinggal di Jepang?

Setelah kemaren gue posting yang asik-asik, sekarang gue mau posting yang ga asik dari Jepang. Dan sekali lagi gue tegaskan  bahwa ini versi gue yaa.

1.    Biaya hidup tinggi
Kebetulan gue kuliah di daerah Tokyo yang udah terkenal dengan biaya hidupnya yang tinggi. Sebagai mahasiswa yang hidupnya bergantung kepada kiriman beasiswa,maka  mau ga mau harus pintar untuk berhemat. Mana kiriman sering telat lagi datangnya.  Menambah suasana semakin dramatis dan horror saja . Jadi demi bisa berhemat dengan uang beasiswa yang pas-pasan itu, gue putuskan tinggal di daerah Saitama. Gw rela deh musti nempuh perjalanan 1,5 jam dari apato ke kampus demi memotong pengeluaran untuk sewa apato. Trus ga bisa juga untuk jajan seenaknya di restoran setiap saat kayak di Indonesia karena ya mahal. Jadi mending masak sendiri trus bawa bekal. Orang jepang juga begitu loh. Ga heran lah kalo ngeliat bapak-bapak pake jas tapi nenteng tas bekal ke kantor. Dan yang paling bikin sakit di dompet itu adalah ongkos kendaraan umum. Mehong boook. Tiap hitung pengeluaran sepulang dari jalan-jalan pasti bawaannya pengen cakar-cakar tembok. Menangis meratapi dompet yang menipis hanya gara-gara jalan di sekitaran Tokyo doank . 

2.    Kaku
Sebagai penikmat komik, bayangan gue mengenai orang Jepang sebelum kesini adalah ekspresif seperti di komik. Yang udah pernah baca komik Jepang pasti tau lah ya gimana lebaynya ekspresi tokoh komiknya. Nangis aja, air matanya ampe mengalir kayak sungai hahahahah. Tapi pas nyampe kesini, buyarlah itu imajinasi gue. Ternyata mereka kaku sekali donk. Mereka baru ekspresif kalo udah mabok hehehehe. Gue tuh suka heran kalo liat mbak-mbak resepsionis disini bisa duduk tegak posisi sempurna dengan ekspresi lempeng. Apa ga pegel dan bosan? Gue kadang ngerasa mereka seperti robot aja.  Kalo ngobrol ama temen kampus yang Jepang, gue jadi sungkan dan ga lepas. Beda kalo pas ngobrol ama international student, gue bisa lepas aja gitu hahahihi. Ya kalo orangnya kaku begitu, kita kan sungkan juga kan kalo mau becanda. Mereka kaku begitu mungkin karena ingin jaga image a.k.a  jaim. Padahal gue yakin, dalam hati mereka pengen juga bisa bebas berekpresi. Jadi bisa aja yang digambarkan di komik itu adalah keinginan terpendam masyarakat Jepang namun susah mereka realisasikan di dunia nyata hahahaha. Mungkin mereka takut terlihat ga berwibawa dan ga serius. Ada sih beberapa temen Jepang yang asik becanda, tapi ya itu karena mereka dah sering ke luar negeri.  Tapi lucunya, ada temen Jepang yang ampe nanya pas ngeliat temen gue itu ngobrol asik dan becanda gila. Orang itu nanya, “dia beneran orang Jepang ya?”. Astaga maaak..segitu anehkah bagi mereka ngeliat orang Jepang yang fleksible .

3.    Tertutup
Nah selain kaku dan jaim, mereka ini tertutup juga. Apalagi ama orang asing ya. Kalo orang Indonesia kan kalo ngeliat bule malah di deketin ya. Bahkan artis aja mepet-mepet minta dipacarin hahahahaha. Tapi kalo orang Jepang, prefer untuk menghindar. Trus ga gampang untuk kita bisa main ke rumah orang Jepang. Kecuali kalo dah deket banget dan dipercaya. Karena rumah bagi mereka itu area private. Ada tuh temen yang istrinya orang Jepang. Pas gue  undang main ke apato, dia sungkan gitu awalnya. Dia sering bilang, “ga apa2?” atau “ga ngerepotin?”.  Beda ama kita yang malah seneng kalo ada temen yang main ke rumah atau sebaliknya.

4.    Ga bisa berisik
Ini sumpah ga asik banget. Kalo di Indonesia, di kendaraan umum kita bebas aja kan ya mau ngobrol ama temen. Ketawa ketiwi tanpa perlu khawatir ada orang yang merasa terganggu. Nah kalo disini ga bisa. Kegiatan orang Jepang kalo di kendaraan umum adalah main HP, tidur, atau baca buku. Jarang ada yang ngobrol. Kalo pun ngobrol harus bisik-bisik. HP pun musti di silent. Trus sebisa mungkin jangan nerima telepon di kendaraan umum. kalo terpaksa, maka sekali lagi harus bisik-bisik. Kalo ga gitu, ya siap-siap aja diliatin dengan pandangan ga enak . Bahkan denger suara anak kecil nangis aja, kerasa loh aura mereka ga sukanya. Kalo sebentar aja nangisnya masih toleran, tapi kalo lama gitu, gue bisa melihat ekspresi mereka merasa terganggu. Dalam bayangan gue, di hati mereka bilang “iih itu orang tuanya ga becus deh, masak ga bisa tenangin anaknya..berisik tauuu”. Trus di apato pun begitu. Apalagi tetangga gue kebanyakan kakek nenek, jadi ya harus menjaga ketenangan.  Mati gaya daaah .

5.    Kurang hidup
Hidup disini memang nyaman ya. Tapi entah kenapa gue ngerasa kayak ada yang kurang. Rasanya tuh kurang hidup aja. Ya mungkin karena serba kaku, jaim dan tenang gitu kali ya. Aaah gue kangen dengan segala kedinamisan Indonesia yang bikin semuanya tampak hidup hahahaha.  Gue juga ngerasa ikatan emosi antar manusia disini tuh sangat kurang. Ga heran kalo mereka jadi gampang stress dan kemudian bunuh diri. Karena menurut gue, ikatan perasaan dengan pasangan, keluarga, teman dan lingkungan itulah yang bikin hidup lebih hidup . 

Ya itulah pendapat gue mengenai hal-hal  yang bikin ga asyik tinggal di Jepang. Yang bikin gue selalu kangen Indonesia. karena bagi gue, sebaik-baiknya tinggal negara orang tetap tidak akan bisa menggantikan nyamannya rumah sendiri. Seperti kata pepatah “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik juga di negeri sendiri”.

Tapi gue tetap harus bersyukur karena Allah SWT memberi kesempatan gue kesini. Banyak pengalaman berharga yang didapat. Semoga bisa menjadikan gue sebagai pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sekitar..aamiin

Rabu, 04 Maret 2015

Apa yang bikin asyik tinggal di Jepang?

Alhamdulillah, gue diberi kesempatan untuk bisa merasakan tinggal sementara di Negara impian gue sejak dulu. Sebagai pencinta komik, tentulah hasrat gue untuk berkunjung ke Jepang sangat tinggi. Dan setelah perjuangan yang lumayan berdarah-darah, akhirnya sampailah gue disini. Sebagai orang yang sudah hampir 2 tahun disini (sebentar lagi pulang yeeaaaa), maka gue pengen sharing tentang apa aja yang bikin asyik tinggal disini dalam versi gue tentunya hehehehe.

1.    Bersih
Kesan pertama gue waktu pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Narita adalah “waaah bersihnyaa”. Dimana-mana memang bersih disini. Langit pun cerah pertanda tidak ada polusi. Saking bersihnya, ketika ada satu sampah yang nyasar di jalan, pasti akan langsung keliatan. Ga heran sih ya karena memang masyarakatnya disiplin untuk membuang sampah pada tempatnya. Kalo abis melakukan aktivitas di tempat umum, sebelum pergi pasti mereka akan otomatis membersihkan tempatnya dulu. Ga pergi begitu aja dan berharap ada petugas sampah yang nyapuin atau kebawa angin dan air hujan hehehehe. Pemerintah pun mengelola sampah dengan baik. Sebelum kita membuang sampah rumah tangga, diwajibkan memilahnya terlebih dahulu dan dibuang sesuai dengan jenis tempat sampahnya.  Kolaborasi yang apik antara masyarakat dan pemerintah membuat jepang menjadi tempat yang bersih untuk ditinggali

2.    Tertib
Orang jepang memang terkenal disiplin ya. Tertib dalam segala hal. Ga heran kalo kita melihat antrian yang rapi dimana-mana. Di depan lift, di depan pintu kereta, di toilet, di restoran, di escalator, dan bahkan nonton konser pun rapi loh hahahaha. Ngomong-ngomong soal escalator, disini ada aturannya kalo mau naik escalator. Kalo kita ga buru-buru alias santai saja maka berdirilah di sebelah kiri. Sedangkan di sebelah kanan diluangkan untuk orang yang lagi buru-buru atau pengen lari. Biasanya kalo yang mau ngejer kereta hahahaha. Dan hampir semua serba tepat waktu disini. Seperti jadwal kereta, pas datang dan sampai sesuai jadwal. Kalo pun ada keterlambatan bakal ada pengumuman berapa menit telatnya. Dan bener donk telatnya memang sesuai dengan yang di umumkan. Jadi enaknya, kita bisa mengukur dengan pas lama perjalanan kita. Kalo lagi janjian ama temen, bisa deh kita kasih tau angka yang pas kapan kita nyampe. Ya kecuali kalo tiba-tba ada kejadian mendadak yang bikin kacau jadwal kereta seperti ada yang loncat bunuh diri ke rel kereta.

3.    Aman
Aman merupakan alasan lain kenapa Jepang asik untuk di kunjungi. Walau di dalam kereta dempet-dempetan pas jam sibuk, kita ga perlu was-was bakal ada copet. Pulang tengah malam pun tetap merasa aman. Gue beberapa kali karena kegiatan kampus atau keasikan main harus pulang tengah malam, walau harus jalan kaki lumayan jauh dari stasiun tapi gue merasa aman aja sih. Paling yang gue takuti adalah kalo tiba-tiba muncul sadako di belakang gue . Disini juga banyak bertebaran cctv ditempat yang tidak kita duga, jadi yaa hati-hati aja kalo mau berniat macam-macam. Kan ga lucu kalo tiba-tiba ada gambar kita terpampang cantik di papan pengumuman buronan.

4.    Infrastruktur yang oke
Hal ini tentu tidak mengherankan ya, mengingat Jepang merupakan Negara maju. Yang bikin gue salut adalah perhatian pemerintahnya terhadap penyandang disabilitas. Contohnya, disediakan tombol lift yang gampang dipencet pengguna kursi roda, dimana-mana tersedia petunjuk menggunakan huruf braille seperti di pegangan tangga dan di lift. Jika ada pengguna kursi roda yang hendak naik dan turun kendaraan umum, pasti petugasnya dengan sigap menolong. Selain itu, karena Jepang terkenal dengan gempanya. Dimana setiap bulan selalu langganan gempa maka bangunan disini memang telah dibikin tahan gempa. Jadi kalo lagi gempa, yang aman ya insya Allah di dalam rumah. Jadi ga usah panik lalu lari keluar rumah. 

5.    Ga rese 
Nah ini yang paling gue suka. Kita ga perlu khawatir untuk terlihat aneh karena orang-orang sini cuek alias ga rese. Mereka sih ga terlalu peduli ama atribut keagamaan. Berdasarkan pengalaman pribagi gw, aman-aman aja tuh pake kerudung disini. Malah ada juga orang local yang nyangka gw lagi pake cosplay. Ampe pernah ngajak photo bareng segala hahahahah. Lagian remaja disini juga banyak yang dandan lebih aneh. Warna rambut mencolok dan make-up yang tidak biasa . Jadi ya mau berpenampilan seperti apapun juga ga akan di rese-in. Dan kalo pun kita harus sholat di tempat umum, misal di stasiun, pojokan mall, di taman, dll maka tetap merasa tenang. Karena ga akan ada yang usil atau dijadikan bahan tontonan. Paing mereka liat sekilas trus berlalu pergi tak peduli hahahahaha.




Ini photo mall deket tempat gue tinggal. Bersih kan. Dan coba liat itu trotoar untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda, luasnya hampir sama ama jalan untuk mobil.



Ini photo lingkungan apartemen gue tinggal. Asri dan nyaman kan. Dan itu lagi ada perbaikan taman tapi tetap dijaga kerapian dengan memberi pagar pembatas dan rambu petunjuk. 





Nah secara garis besar, hal-hal tadi yang bikin asyik tinggal di sini menurut gue. Besok insya Allah gue posting hal sebaliknya ya. 

Sekian dulu teman-teman

Kamis, 26 Februari 2015

Kembali pulang

Akhirnya, gue putuskan untuk kembali menjadi blogger setelah lebih dari empat tahun di tinggalkan. Pengembaraan gue ke negeri antah berantah harus di akhiri dan gue pun harus segera pulang.

Ya, blog adalah sebuah rumah bagi gue di dunia maya ini. Rumah yang penuh kehangatan dan menyimpan banyak memori. Rumah yang merefleksikan pikiran, perasaan, penglihatan, dan pendengaran gue. Dan rumah dimana pintu dan jendelanya senantiasa gue buka agar setiap orang yang lewat bisa masuk dan menikmati kenyamanannya.

Sayangnya, rumah yang lama telah lapuk dimakan usia. Ketika kembali dari perantauan, gue hanya bisa menatap nanar puing-puing reruntuhan rumah gue. Mau ga mau, gue pun harus membangun rumah baru. Rumah baru yang dibangun berlandaskan asa untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Gue ingin berbagi apapun untuk bisa di ambil pelajaran dan manfaatnya. Hope you enjoy it ^_^


A new home is where my story begins...

Image location: http://www.dailyhappyquote.com/wp-content/uploads/2013/12/happy-quotes-691.jpg